AKAL DAN WAHYU :
KONSEP DAN HUBUNGAN
KEDUANYA DALAM ISLAM
Disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Tauhid
Dosen Pengampuh : Farida Musyrifah, M.S.I
Disusun oleh :
1.
Ahmad Subhan Yazid
2.
Muhammad Azzam M.
3.
Agil Mubarok
4.
Muslih Zainuri
5.
Irham Dzuhri
6.
Nur Rohman
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013
DAFTAR ISI
COVER................................................................................................................... i
DAFTAR
ISI........................................................................................................... ii
BAB
1 PENDAHULUAN..................................................................................... 1
BAB
2 PEMBAHASAN........................................................................................ 2
2.1
pengertian dan konsep akal ............................................................................... 2
2.2
pengertian dan konsep wahyu........................................................................... 3
2.3
hubungan dan integrasi antara akal dan wahyu dalam islam............................. 4
2.4
Opini Penulis...................................................................................................... 5
BAB
3 PENUTUP.................................................................................................. 7
3.1
kesimpulan......................................................................................................... 7
3.2
saran................................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Tauhhid dalam arti
sederhana membahas soal-soal yang berkaitan dengan diri Tuhan dan hubungannya
dengan alam semesta, terutama hubungan-Nya dengan manusia. Diantara semua
makhluk, hanya manusialah yang mempunyai kesanggupan untuk mengadakan pembahasan
demikian, mengingat manusia telah diberikan karunia yang sangat hebat yakni
akal, yang dengannya manusia dapat merenungkan dan memikirkan mengenai Tuhan
dan mahluk ciptaannya.
Islam bahkan menjadikan
akal sebagai salah satu diantara lima hal pokok yang diperintahkan oleh syariah
untuk dijaga dan dipelihara, dimana kemaslahatan dunia dan akhirat disandarkan kepada
terjaga dan terpeliharanya kelima unsur tersebut, yaitu: agama, jiwa, akal,
keturunan, dan harta.
Di dalam ajaran
agama Islam, ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, yaitu wahyu dan akal.
Wahyu dalam arti komunikasi Tuhan kepada manusia. sedangkan akal menggunakan kesan-kesan
yang diperoleh pancaindera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada
kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu bersifat absolut dan
mutlak benar, sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat
relatif, yakni memerlukan pengujian terus menerus,dan memungkinkanbernilai benar
ataupun salah.
Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai pengertian akal dan wahyu, serta kedudukan akal dan wahyu di dalam
Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian dan Konsep Akal
Kata akal berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang berarti paham dan mengerti. sehingga
dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan yang dianugerahkan Allah SWT.
kepada manusia untuk membedakan serta menganalisis antara yang salah dan yang
benar.
Dalam pandangan para filosof islam,
kata al-‘aql mengandung arti yang sama dengan kata Yunani “nouse”, yang
berarti daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia.Abu Huzail
mengatakan “akal merupkan daya untuk memperoleh pengetahuan, dan juga daya yang
membuat seseorang dapat membedakan antara dirinya dan benda lain, dan juga
antara benda yang satu dari yang lain”. Sedangkan menurut kaum teolog, akal
juga mempunyai daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan.
Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman
jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis yang dalam istilah psikologi
modern disebut kecakapan memecahkan masalah.Orang berakal, menurut pendapatnya
adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan
Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalahsuatu daya yang hanya dimiliki
manusia dan oleh karena itu dialah yang membedakan manusia dari mahluk lain.
Sehingga dapat diambil kesimpulan, akal adalah
anugerah atau kelebihan yang diberikan Allah SWT. kepada umat manusia yang
berfungsi untuk berpikir, sehingga diperoleh pemahaman dan pemecahan terhadap suatu
masalah. Dan dengan akal inilah, Allah SWT. meninggikan derajat manusia diatas
mahluk-mahluk yang lain.
Fungsi
Akal
Adapun,
beberapa fungsi dari akal adalah sebagai berikut :
1. Tolak
ukur akan kebenaran dan kebatilan.
2. Alat
untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
3. Alat
penemu solusi ketika permasalahan datang.
4. melihat
secara abstrak dalam arti berfikir (nazara)
5. merenungkan
(Tadabbara), berfikir (Tafakkara) danmengerti ataupaham (Faqiha)
6. mengingat,
memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari. (Tazakkara)
Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat
dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam
berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia, yang akan meninjau antara baik dan buruk serta
akibat yang ditimbulkan dari hal dikerjakan tersebut. Dan Akal adalah
jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna ketika tidak
didasarkan akal. Iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat. Dan
akalyang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa.
2.2 Pengertian dan Konsep Wahyu
Kata wahyu berasal dari kata arab الوحي, yang secara etimologi berarti suara,
bisikan, isyarat dan kecepatan. Wahyu sering disebut
sebuah pemberitahuan tersembunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa
seorangpun yang mengetahuinya.
Menurut Muhammad
Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di
dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua
itu datang dari Allah SWT., baik melalui
perantara maupun tanpa perantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk
dalam telinga ataupun lainya.
Sedangkan, pengertian
wahyu secara terminologi adalah firman (petunjuk) Allah SWT. yang disampaikan
kepada para nabi dan auliya’ untuk disampaikan kepada umatnya sebagai
pedoman hidup. Karena wahyu bersumber dan datang dari Allah SWT., maka wahyu
bersifat mutlak (absolut). Dalam islam wahyu yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW. terkumpul dalam Al-Qur’an. Sehingga dalam defenisi yang
lebih ringkas, wahyu adalah “كلام الله تعالى المنزل
على نبي من أنبيائه”(Kalam Allah SWT. kepada para nabi-Nya).
Wahyu berfungsi
memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksud memberi informasi disini
yaitu wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada Tuhan,
menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan
perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.
Wahyu secara tersirat
adalah senjata yang diberikan Allah SWT. kepadaNabi-Nya untuk
melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai
keberadaanya, dan juga sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta
yaitu Allah SWT.
Cara
Wahyu Allah SWT. Turun Kepada Para Rasul
Adapun
cara penyampaian wahyu kepada para rasul dijelaskan dalam tabel berikut :
Tanpa
melalui peranta
|
Melalui
perantara malaikat
|
Mimpi
yang benar dalam tidur
(kisah
nabi Ibrahim yang mendapat wahyu untuk menyembelih putranya ketika tidur).
|
Datang
kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang sangat kuat sehingga
mempengaruhi faktor-faktor kesadaran.
|
Kalam
ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara(ketika I’sra’ dan Mi’raj nabi
).
|
Malaikat
menjelma sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia.
|
2.3 Hubungan dan Integrasi Antara Akal dan
Wahyu Dalam Islam
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. yang
paling sempurna. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah
akal, yang dengannya manusia diberi kemampuan oleh Allah SWT. untuk berpikir.
Akal yang dimiliki manusia digunakan untuk memilih, mempertimbangkan, dan
menentukan jalan pikirannya sendiri. Dengan menggunakan akal, manusia mampu
memahami Al-Qur’an yang diturunkan sebagai wahyu oleh Allah SWT. kepada nabi
Muhammad SAW. Dengan akal pula, manusia mampu menelaah sejarah islam dari masa
lampau sampai masa sekarang. Akal juga digunakan untuk membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk.
Dalam ajaran agama Islam, ada dua jalan untuk
memproleh pengetahuan, pertama dengan jalan akal, kedua dengan jalan wahyu.Kemudiantimbul
pertanyaan, pengetahuan mana yang lebih dipercaya, pengetahuan yang diperoleh
melalui akal, pengetahuan melalui wahyu, atau pengetahuan yang diperoleh
melalui kedua-duanya ?
Akal merupakan indikator bagi manusia sehingga
dikatakan makhluk paling sempurna dibanding dengan yang lain.Akan tetapi,
meskipun demikian akal bukanlah penentu segalanya. Ia tetap memiliki kemampuan
dan kapasitas yang terbatas. Oleh karena itulah, AllahSWT. menurunkan
wahyu-Nya untuk membimbing manusia agar tidak tersesat.
Kedudukan wahyu terhadap akal manusia adalah seperti
cahaya terhadap indera penglihatan manusia.Oleh karena itulah, Allah SWT.
menurunkan wahyu-Nya untuk membimbing manusia agar tidak tersesat.
Meletakkan akal dan wahyu secara fungsional akan
lebih tepat dibandingkan struktural, karena bagaimanapun juga akal
memiliki fungsi sebagai alat untuk memahami wahyu, dan agar
wahyu tersebut dapat dijadikan petunjuk dan pedoman kehidupan manusia, maka harus melibatkan akal untuk memahami dan
menjabarkannya secara praktis. Manusia diciptakan oleh tuhan dengan tujuan yang
jelas, yakni sebagai hamba Allah SWT. dan khalifah, dan untuk mencapai
tujuan tersebut manusia dibekali akal dan wahyu.
Kedudukan antara wahyu dalam islam sama-sama
penting. Karena islam tak akan terlihat sempurna jika tak ada wahyu maupun
akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal dalam islam. Dapat
dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan akal ibarat penyeimbang.
Setelah mengetahui bahwa akal adalah daya untuk
memperoleh pengetahuan dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh pancaindera
sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan; dan wahyu
adalah sabda Tuhan yang disampaikan kepada orang-orang pilihanNya (nabi dan
rasul) untuk umat manusia, yang dari sabda Tuhan itu manusia memperoleh keterangan
dan pengetahuan yang diperlukan dalam perjalanan hidupnya, maka nyatalah akal
dan wahyu itu sebagai sumber pengetahuan manusia.
2.4Opini penulis
Menurut penulis, wahyu berfungsi menyempurnakan dan
membimbing hasil penemuan akal agar tidak terjerumus pada kesesatan. Seperti
apabila kita mengamati dari mana asalnyaapel? Akal akan mencari sumber asal apel
tersebut, ternyata ditemukanlah apel berasal dari pedagang. pedagang dari mana,
dari petani. petani dari mana, dari kebun. maka terlihat di kebun apel tersebut
ternyata apel tumbuh dari pohon apel. Siapa yang menumbuhkan pohon tersebut?
ternyata apabila dipikirkan, bukanlahh petani yang membuat tumbuh pohon apel,
karena petani hanya mampu berharap bahwa benih pohon yang ditanam tumbuh dengan
subur, petani tidak mampu untuk menentukan apakah pohon apelakan tumbuh subur
dan berbuah apel bukan buah tomat ataupun buah yang lain.
Berarti dari simulasi tersebut akal mampu menemukan apel
bersal dari pohon yang ditanam petani. selanjutnya akal berpikir lagi, siapa
yang membuat pohon apel tersebut tumbuh? Akal akan menjawab pasti ada satu Dzat
yang Maha segalanya yang mengatur ini semua.Pertanyaannya, siapa Dia? Akal akan
menjawab itulah Tuhan. siapa Tuhan itu? Disini titik kebuntuan akal, karena
tidak mampu mengetahui Tuhannya siapa! Oleh karenanya, semenjak zaman nenek
moyang akal mencari Tuhan, maka akal memukan bahwa Tuhan itu roh-roh suci, maka
lahirlah aliran animisme.Ada juga yang menemukan Tuhan itu dalam benda-benda
tertentu, maka lahir pula aliran dinamisme dan lain sebagainya.
Tetapi ketika akal dibimbing oleh wahyu, maka akal
akan menemukan Tuhan yang sebenarnya, yaitu Allah SWT.Melalui dengan firmanNya
QS al-Baqarah:22: “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan
langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena
itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah SWT., padahal kamu
mengetahui.”
Dilihat dari kenyataan di atas, akal akan buntu
dalam pemikirannya apabila tidak dibimbing oleh wahyu. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa akal adalah alat pencari kebenaran yang harus dilegitimasi oleh
wahyu, agar kebenaran tidak menjadi abstrak dan relativistis serta sesuai
dengan aturan Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian yang di
berikan diatas dapatlah disimpulkan :
- Akal adalah
anugerah atau kelebihan yang diberikan Allah SWT. kepada umat manusia yang
berfungsi untuk berpikir, sehingga diperoleh pemahaman dan pemecahan
terhadap suatu masalah. Dan dengan akal inilah, Allah SWT. meninggikan
derajat manusia diatas mahluk-mahluk yang lain.
- Wahyu
adalah petunjuk dari Allah SWT. yang disampaikan kepada nabi-Nya baik
untuk dirinya sendiri maupun untuk disampaikan kepada umatyang berfungsi
sebagai pedoman hidup.Kedudukan wahyu terhadap akal manusia adalah seperti
cahaya terhadap indera penglihatan manusia
- Hubungan
antara akal dan wahyu yakni : akal berfungsi untuk memahami wahyu, dan
wahyu berfungsi untuk meluruskan kerja akal.
Akal
dan wahyu digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bagi umat manusia.
Antara akal dan wahyu terdapat ruang dimana keduanya dapat bertemu dan bahkan
saling berinteraksi, yakni pada saat wahyu merekomendasikan berkembangnya
pengetauan dengan memberikan ruang kebebasan bagi akal untuk berpikir dengan
dinamis, kreatif dan terbuka. Sehingga hubungan antara akal dan wahyu tidak
bertentangan akan tetapi sangat berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya,
bahkan kedua-duanya saling menyempurnakan.
3.2 Saran
Kami mengharapkan para pembaca bisa mengambil
pelajaran dari makalah kami ini, dan member kritikan dari setiap kesalahan yang
ada karena kami manusia biasa yang dhaif, dan jika ada benarnya itu semata-mata
dari Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Asy’arie, Musa. 1992. Manusia Pembentuk
Kebudayaan dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: Lembaga studi Filsafat Islam.
Nash Hamid Abu Zaid. 2001; Tekstualitas
Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an, Yogyakarta:LKIS,
Nasution,Harun. 1986; Akal Dan
Wahyu Dalam Islam, Jakarta : Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar